TERIMAKASIH ANDA TELAH MENGUNJUNGI KAMI
RAPI KECAMATAN KOJA JAKARTA UTARA

Minggu, 09 Januari 2011

Aktivis: Keindonesiaan Soeharto Tidak Meragukan

 Aktivis: Keindonesiaan Soeharto Tidak Meragukan

Jakarta - Para aktivis menilai, peran signifikan Soeharto dalam memajukan bangsanya selama era kepemimpinannya membuktikan `jenderal besar` ini memiliki jiwa keindonesiaan tidak meragukan.
Demikian benang merah percakapan dalam rangka persiapan gelar diskusi `Mengenang Pak Harto` (sehubungan peringatan wafatnya mantan Presiden ke-2 RI itu), di Jakarta, Sabtu, yang menghadirkan beberapa aktivis dari Aliansi Soehatois Patriot Pelopor Pembangunan Republik Indonesia (ASPPPRI) dan Institut Studi Nusantara (ISN).
Koordinator Nasional (Kornas) ASPPPRI, Jantje Worotitjan menegaskan, masuknya Indonesia pada posisi papan atas dalam kemajuan perekonomian, bahkan sempat dijuluki salah satu `macan Asia`, merupakan sesuatu yang tidak bisa dipungkiri dalam sejarah perekonomian kita.
"Segelintir orang bisa menyatakan apa saja tentang Pak Harto, tetapi satu hal yang pasti, namanya tak akan pernah lepas sebagai Bapak Pembangunan yang memberi andil besar dalam sejarah perjuangan kebangsaan, termasuk meneruskan idealisme membangun Indonesia berbasis Pancasila," tandas Jantje Worotitjan.
Sementara itu, Donny Lumingas dari Institut Studi Nusantara (ISN) mengungkapkan, sesungguhnya ada persamaan antara dua tokoh besar Indonesia, yakni Bung Karno selaku Proklamator RI dengan Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan.
"Keduanya `gila` Indonesia. Keduanya memiliki idealisme murni untuk memajukan Indonesia dan tidak dianggap sebagai bangsa `tempe`, bangsa `kuli` atau bangsa nomor buntut di antara bangsa-bangsa, terutama di Asia, Afrika dan Amerika Latin," ujarnya.
Itulah sebabnya, kata Donny Lumingas, wajar saja jika pengagum bahkan penerus pemikiran kedua tokoh besar itu masih tetap banyak hingga sekarang, baik di dalam maupun luar negeri.
"Diskusi Mengenang Soeharto, merupakan salah satu aktivitas penting dalam peringatan wafatnya Bapak Pembangunan. Selain acara itu, pada hari peringatan saat meninggalnya Pak Harto, yakni Hari Minggu (27 Januari 2011), yakni tepat pada pukul 13.10 WIB," ungkap Jantje Worotitjan. Antara - Sabtu, 8 Januari 2011

Jumat, 07 Januari 2011

Banjir di Medan Sunggal Capai Satu Meter

Jebolnya tanggul Sungai Belawan mengakibatkan sejumlah rumah terendam banjir dengan ketinggian mencapai dua meter. (FOTO ANTARA/Kiki Cahyadi)


Medan - Banjir di Lingkungan IV Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Sumatera Utara, Kamis dini hari diperkirakan hampir mencapai ketinggian satu meter, namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa.

"Air banjir yang cukup deras yang masuk ke rumah-rumah penduduk itu tidak ada yang sampai menengelamkan warga maupun anak-anak karena secepatnya dilakukan antisipasi oleh masyarakat setempat," kata Kepala Lingkungan IV, Kelurahan Sunggal, Huzaima (52), menjawab ANTARA di Medan, Kamis.

Antisipasi banjir dimaksud, menurut dia, saat terjadinya hujan deras Rabu (5/1) sekitar pukul 22.00 WIB, warga yang ada di Lingkungan IV itu telah siap siaga atau "berjaga-jaga" dengan mengemas barang-barang mereka yang perlu diselamatkan ke tempat yang lebih tinggi dari lokasi terjadinya banjir tersebut.

Sebab, tanda-tanda banjir atau Sungai Sunggal akan meluap sudah mulai kelihatan, air sungai kelihatan warna kuning bercampur lumpur dan cukup deras.Ini adalah pertanda banjir kiriman.

Apalagi, katanya, Sungai Sunggal itu hanya berjarak lebih kurang 50 meter dari rumah warga tersebut, jadi mudah untuk dipantau bila meluap atau "mengganas".

Namun ternyata, apa yang telah dikhawatirkan sejumlah warga akan terjadinya banjir itu menjadi kenyataan.Tepatnya hari Kamis (6/1) sekitar pukul 04.00 WIB, Sungai Sunggal meluap, air banjir tersebut masuk kedalam rumah 200 penduduk.

Sementara jumlah warga yang terdapat di Lingkungan IV diperkirakan mencapai 230 keluarga atau lebih kurang 600 jiwa.

Selanjutnya, ia menjelaskan rumah-rumah warga yang tergenang banjir tersebut, lokasinya agak rendah dan berdekatan pula dengan Sungai Sunggal.

"Jadi, wajar lokasi tersebut terkena banjir, bila dibandingkan dengan daerah lain yang ada di Kelurahan Sunggal itu," kata Huzaima.

Untuk sementara, ratusan warga yang rumahnya terkena banjir itu, terpaksa mengungsi ke tempat lain, menunggu surutnya banjir tersebut.

"Diperkirakan nanti malam, warga sudah bisa pulang ke rumah mereka. Daerah itu selama ini sering jadi langganan banjir karena lokasinya yang rendah," katanya.

Terkena Banjir

Sejumlah kelurahan di Kota Medan yang dilanda banjir, yakni Kelurahan Kampung Baru, Kelurahan Hamdan dan Kelurahan Sei Mati di Kecamatan Medan Maimun.

Di kawasan Tanjung Anom, Tanjung Selamat di Kecamatan Medan Tuntungan. Kelambir Lima, Kampung Lalang, Helvetia di Kecamatan Medan Sunggal. Kemudian, Medan Labuhan, Medan Deli dan Belawan.

Ribuan rumah penduduk di Medan tergenang akibat banjir yang terjadi di kota berpenghuni dua juta jiwa lebih itu.Banjir tersebut akibat meluapnya Sungai Deli dan Sungai Sunggal.

(ANT/S026) Kamis, 6 Januari 2011 16:46 WIB

Selasa, 04 Januari 2011

Pasal 2 Pergub Merokok Diminta Dibatalkan

Jakarta - Tim Advokasi Hak Rakyat (TAHR) meminta Gubenur DKI Jakarta membatalkan Pasal 2 Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 88 Tahun 2010 sehingga perokok tetap dapat merokok di ruang khusus di dalam gedung.

"Bahwa apabila dalam jangka waktu 45 hari Bapak Gubernur tidak membatalkan Pasal 2
Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Gubernur Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok, maka klien kami akan mengajukan gugatan perdata perbuatan melawan hukum dengan mekasnisme 'Citizen Law Suit' melalui Pengadilan Negeri Jakarta Pusat," demikian TAHR dalam suratnya kepada Gubernur DKI Jakarta, yang diterima di Jakarta, Selasa.

Pasal 2 Pergub Nomor 88 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Pergub Nomor 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok berbunyi, ketentuan Pasal 18 diubah, sehingga keseluruhan pasal 18 berbunyi sebagai berikut, "Tempat khusus merokok harus memenuhi ketentuan terpisah secara fisik dan terletak di luar gedung serta tidak berdekatan dengan pintu keluar masuk gedung."

Disebutkan, bahwa ketentuan Pasal 18 Peraturan Gubernur DKI Nomor 75 Tahun 2005 sudah cukup melindungi hak orang yang bukan perokok untuk menikmati udara yang terbebas dari asap rokok dan sekaligus juga melindungi hak perokok untuk merokok di tempat merokok.

TAHR dalam suratnya mewakili warga yang merupakan perokok.

"Klien kami berhak untuk merokok sepanjang tidak mengganggu hak-hak orang yang bukan perokok," kata TAHR dalam suratnya yang ditandatangani Habiburokhman, M Maulana Bungaran dan Daru Supriono.

Daru mengatakan bahwa surat itu bukan untuk membela perokok namun hak konstitusional warga.

Dalam suratnya mereka mengatakan, kliennya berhak untuk merokok sepanjang tidak mengganggu hak-hak orang yang bukan perokok.(*)
(R009/AR09) Selasa, 4 Januari 2011 18:57 WIB

Banjir Lahar Dingin Merapi Robohkan Dua Jembatan

 
ilustrasi (Regina Safri)

Sleman - Banjir lahar dingin yang melalui aliran Sungai Opak di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Senin malam mengakibatkan dua jembatan dan Markas Komando Polsek Cangkringan roboh dihantam bebatuan.

"Banjir lahar dingin yang membawa serta material vulkanik seperti pasir dan batu-batu besar malam ini setidaknya merobohkan dua jembatan utama, yakni jembatan di Dusun Panggung, di Desa Wukirsari yang merupakan akses jalur alternatif Magelang - Prambanan dan jembatan di Dusun Krajan, Desa Wukirsari," kata Camat Cangkringan Samsul Bakri, Senin malam.

Menurut dia, selain dua jembatan utama tersebut, luapan banjir lahar dingin juga menghantam Markas Komando (Mako) Polsek Cangkringan di Desa Argomulyo hingga sebagian besar temboknya hancur dan hampir seluruh area tertimbun pasir dan bebatuan setinggi satu meter.

"Hujan deras yang terjadi di puncak Merapi sejak sore tadi memang menghanyutkan material vulkanik dan bebatuan besar dalam jumlah yang sangat banyak melalui aliran Sungai Opak, karena saat ini aliran sungai yang puluhan tahun mati tersebut menjadi aliran utama setelah Sungai Gendol tersumbat material vulkanik," katanya.

Ia mengatakan, selain itu akibat banjir lahar dingin tersebut juga mengakibatkan ratusan warga yang berada di sekitar aliran Sungai Opak harus diungsikan ke lokasi yang lebih aman.

"Ada lima dusun yang harus dievakuasi yakni Dusun Liwang, Teplok dan Panggung di Desa Argomulyo serta Dusun Salam dan Krajan di Desa Wukirsari," katanya.

Samsul mengatakan, warga dari lima dusun yang diungsikan tersebut hanya yang berada di sekitar aliran Sungai Opak yang terancam terkena luapan banjir lahar dingin.

"Evakuasi warga ini sifatnya hanya sementara, dan setelah banjir surut dan kondisi aman maka warga akan dikembalikan lagi ke rumahnya," katanya.

Ia mengatakan, sampai saat ini belum ada rumah warga yang terkena luapan banjir, namun bajir lahar dingin tersebut menimbun sejumlah lahan pertanian milik warga.

"Untuk luas lahan pertanian yang terkena banjir lahar dingin sampai saat ini belum dapat kami pastikan, namun memang cukup luas," katanya.

Sementara itu, di lokasi banjir lahar dingin saat ini tengah dilakukan upaya pengamanan yang dipimpin langsung Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta Brigjen Ondang Sutarsa Budhi, Camat Cangkringan Samsul Bakri, Komandan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Sleman Widi Sutikno dan sejumlah pejabat dan instansi terkait.(*)
(U.V001/R014/R009) Senin, 3 Januari 2011 23:32 WIB

Jumat, 31 Desember 2010

Ulama Yaman: Islam Tidak Kenal Terorisme

Banda Aceh - Ulama besar dari Republik Yaman Habib Umar bin Hafidz menyatakan Islam tidak mengenal terorisme, karena agama dibawa Nabi Muhammad SAW itu penuh dengan perdamaian dan saling menghargai.

"Islam itu bukan teroris, Islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Teroris adalah istilah baru yang diciptakan orang-orang yang menginginkan kehancuran," katanya di Banda Aceh, Kamis.

Hal itu disampaikan Habib Umar saat memberi ceramah dihadapan ribuan warga usai memimpin zikir Akbar akhir tahun di Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Menurutnya teroris yang dilekatkan pada dunia Islam selama ini hanya istilah dipopulerkan oleh media barat dan umat Islam diimbau tidak terpengaruh dengan hal itu.

Habib Umar mengatakan Islam tidak identik dengan pembunuhan, perusakan, mengumbar kebencian seperti dipahami oleh segelintir dunia barat. "Itu hanya perilaku orang-orang kufur," katanya.

Pembunuhan terjadi setiap hari di seluruh belahan dunia saat ini dinilai karena umat manusia di muka bumi sudah mengabaikan nur (cahaya) Islam dan keimanannya kepada Allah SWT.

"Sesungguhnya itu terjadi karena jauhnya mereka dari nur Islam dan iman kepada Allah," kata ulama Syafi`ah itu.

Menurut Habib, Islam melarang umatnya saling membenci dan mencaci maki satu sama lain hanya karena perbedaan ajaran atau keyakinan, termasuk tidak dibenarkan membeci serta menghina agama lain.

Allah SWT melarang umat Islam saling mencaci maki, bahkan mencaci maki Tuhan-Tuhan palsu kaum musyrikin sekalipun, karena cacian itu akan dibalas dengan cacian juga, sehingga menimbulkan kehancuran," ujar Habib Umar.

Islam, kata dia, juga melarang umatnya mengkafirkan orang lain meskipun dia sudah duluan disebut kafir oleh orang lain.

Umat Islam khususnya penganut Ahlusunnah Waljamaah diimbau untuk tidak terlalu fanatik menganut suatu ajaran, sehingga akan menjadi sulit menerima perbedaan pendapat yang dikhawatirkan memicu perpecahan.

"Ahlussunah Waljamaah menjanjikan kedamaian, tetapi Ahlussunah Waljamaah tidak mengajarkan penganutnya fanatik. Karena itu kita tidak harus mengejek-ejek ajaran lain," katanya.

Habib Umar mengimbau umat Islam khususnya penganut Ahlussunah Waljamaah untuk menjadi suri tauladan, sehingga ajaran yang dianutnya menjadi panutan bagi umat lain. "Tidak harus mencaci maki untuk mengakui ajaran kita," ujar dia.

Habib Umar meminta umat Islam agar menanyakan sesuatu yang belum diketahuinya tentang Islam kepada ulama yang berkompeten dan tidak langsung menyalahkan setiap ada perbedaan.

Ulama Yaman itu juga mengimbau kepada umat Islam seluruh dunia agar menjadikan tsunami melanda Aceh 2004 yang merengut sekitar 230 ribu jiwa, sebagai bahan renungan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Tsunami itu hikmah dari Allah SWT untuk memberi tanda bahwa Tuhan itu ada," kata Habib Umar yang ikut berziarah ke kuburan massal korban tsunami selama di Aceh.(*)
(ANT-187/H011/R009)

Rabu, 29 Desember 2010

Polri Ungkap 23.531 Kasus Narkoba di Indonesia


Jakarta - Kepolisian berhasil mengungkapkan 23.531 kasus narkoba di seluruh Indonesia sepanjang 2010, kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri Brigjen Pol I Ketut Untung Yoga Ana di Jakarta, Selasa.
"Semua kasus narkoba (23.531 kasus) itu terdiri dari narkotika sebanyak 15.948 kasus, psikotropika 949 kasus dan bahan berbahaya sebanyak 6.634 kasus," katanya.
Jumlah tersangka dalam kasus narkoba 29.681 orang terdiri dari narkotika sebanyak 21.430 orang, psikotropika 1.239 orang dan bahan berbahaya sebanyak 7.012 orang, ujarnya.
"Jumlah barang bukti yang disita untuk pohon ganja sebanyak 202.018 batang, biji ganja 120,5 gram, daun ganja sebanyak 18,6 juta gram," kata Yoga.
Kemudian heroin 23.773,34 gram, hashish 4.946,6 gram, kokain 54,03 gram, ekstasy 369.268 butir, shabu 280.006,52 gram dan shabu cair 8.325 gram.
Selanjutnya, psikotropika yang disita untuk obat daftar G sebanyak 1,5 juta tablet, Ketamin 109.366 gram, Benzodiazepin 534.192 tablet dan Barbiturat sebanyak 308.568 tablet, kata Karo Penmas.
Polri juga menyita bahan berbahaya di antaranya minuman keras sebanyak 164.226 botol, air keras 103 liter, Borax 500 kilogram serta obat palsu sebanyak 131.980 tablet dan 34 botol, kata Yoga.
"Apabila dikalkulasi, maka uang yang dapat diselamatkan sebesar Rp892,6 miliar dan pemakai pemula yang dapat diselamatkan sebanyak 64.874.304 orang," kata Yoga.

Antara - Rabu, 29 Desember 2010

Minggu, 19 Desember 2010

Sultan: Berbagai Pandangan Beri Nuansa RUUK

Sultan: Berbagai Pandangan Beri Nuansa RUUK
BANTUL - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan berbagai pandangan di DPRD kabupaten maupun provinsi diharapkan memberi nuansa dalam pembahasan Rancangan Undangan-undang Keistimewaan provinsi ini.
"Berbagai pandangan itu akan menjadi masukan dan diharapkan memberi nuansa di DPR RI dalam pembahasan Rancangan Undang-undang Keistimewaan (RUUK) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)," katanya.
Sultan Sabtu (18/12) kemarin ikut menghadiri Sidang Paripurna DPRD Kabupaten Bantul untuk menyikapi RUUK DIY. Menurut Sultan, berbagai pandangan mengenai RUUK DIY telah diutarakan perwakilan rakyat melalui fraksi-fraksi DPRD di Kabupaten Bantul dan DPRD provinsi. Semua masukan itu akan disampaikan ke DPR RI.
Meski demikian, menurut Sultan, saat ini dirinya tidak mengetahui apa yang terjadi di DPR RI terkait pembahasan RUUK soal mekanisme jabatan gubernur dan wakil gubernur DIY. Dia tidak tahu apakah melalui penetapan atau pemilihan. "Nanti akan ada pembahasan di DPR. Ada juga tim yang akan datang ke Yogyakarta. Saya kira nanti juga ada pembicaraan dengan DPRD, baik provinsi maupun kabupaten," katanya.
Sultan mengatakan bahwa kehadirannya dalam Sidang Paripurna DPRD Bantul karena diundang untuk menghadiri dan mendengarkan aspirasi masyarakat melalui fraksi di dewan. Dia juga menyatakan siap menerima tawaran dari pimpinan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memfasilitasi pertemuan dengan Presiden terkait dengan RUUK DIY.
Republika - Minggu, 19 Desember 2010

Jumat, 17 Desember 2010

Penumpang Kapal Roro Kandas di Merak Berteriak-Teriak Panik

Kapal ferry Jagantara yang mengangkut penumpang asal Pulau Sumatera merapat di Pelabuhan Merak, Banten (Yudhi Mahatma)

Merak - Sekitar seribuan penumpang KMP Panorama Nusantara milik PT Jembatan Madura yang kandas di Perairan Merak, Kota Cilegon mulai panik, mereka berteriak dan meminta tolong agar segera dievakuasi.

"Kami masih kesulitan melakukan evakuasi terhadap penumpang KMP Panorama Nusantara yang sudah sejak pukul 19:30 WIB kandas, akibat terbawa arus dan angin kencang," kata Kepala Cabang PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry, Merak, Teja Suparna didampingi staf Humas setempat, Mario, Kamis.

Dia menjelaskan, saat ini pihak ASDP masih berupaya dan berfikir keras, agar penumpang dapat di evakuasi secepatnya, lantaran penumpang sudah mulai panik dan berteriak.

"Kami berupaya agar ini dapat diselesaikan, tapi kendala kami selain kapal itu saat ini berada di perairan dangkal, juga kondisi angin kencang dan gelombang di Perairan Merak masih kencang dan tinggi," ujarnya.

Pantauan di lokasi, kandasnya Kapal Ferry jenis ro-ro dengan kapasitas penumpang sebanyak 1.028, kendaraan 150 unit berat 8.915 GRT dan kecepatan 14 knot ini masih berada di Perairan Merak, persis di belakang Terminal Terpada Merak (TTM), Kota Cilegon.

Pihak PT ASDP Indonesia Ferry, Merak sendiri belum berhasil menghitung jumlah penumpang pejalan kaki yang berada di KMP Panorama Nusantara, namun diketahui di dalam kapal tersebut terdapat 19 kendaraan roda dua, sembilan mobil kecil, 28 colt diesel, satu unit truk besar, dan 18 tronton.

"Kalau untuk jumlah penumpangnya sendiri kami belum mendapatkan konfirmasi, tetapi menurut laporan KMP Panorama Nusantara itu berangkat dari Pelabuhan Bakauheni pukul 14:15 WIB, dan kandas pukul 19:30, bukan pukul 20:00 WIB," jelas Teja didampingi Mario. (ANT/K004) Jumat, 17 Desember 2010 01:48 WIB

Kamis, 16 Desember 2010

Syafi`i Ma`arief: Keistimewaan Yogyakarta Tak Perlu Diganggu

Syafi`i Ma`arief: Keistimewaan Yogyakarta Tak Perlu Diganggu

Jakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Syafi`i Ma`arief mangatakan, keistimewaan Yogyakarta tidak perlu diganggu dengan isu pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur.
"DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) disinggung-singgung seolah mencederai demokrasi dan UUD 1945, itu dari mana? Bahkan UUD 1945 sendiri mengakui keistimewaan Yogyakarta," katanya di Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan, secara kesejarahan, justru Yogyakartalah yang menjaga Indonesia dan demokrasi di Indonesia tetap dapat berjalan. Ia mengatakan, tanpa peran Sultan Yogyakarta Hamengku Buwono IX, yang rela membiayai keberadaan negara Indonesia di masa revolusi, sulit untuk membayangkan negara Indonesia dan demokrasi itu ada.
"Untuk itu, pemerintah tak perlu buat gara-gara dan `goro-goro`. Kalau ini namanya gara-gara dan goro-goro," katanya.
Seperti diberitakan, pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait dengan ketidakcocokan antara monarki dan demokrasi di Daerah Istimewa Yogyakarta telah mendapatkan tanggapan dari banyak pihak.
Pernyataan Presiden kemudian dijabarkan dalam RUU Keistimewaan Yogyakarta yang akan diusulkan dengan memuat pasal terkait pemilihan gubernur dan wakil gubernur.
Padahal selama ini Yogyakarta sebagai salah satu daerah yang diistimewakan memiliki Gubernur dan Wakil Gubernur yang ditetapkan, yaitu sultan dari Kasultanan Yogyakarta dan Istana Paku Alam.
Namun dalam RUU Keistimewaan Yogyakarta yang akan diajukan, mengubah penetapan menjadi pemilihan secara langsung. Hal itu memicu berbagai aksi penolakan di Yogyakarta.
Ribuan, masyarakat Yogyakarta pada Senin (13/12) melakukan aksi sidang rakyat yang diawali dengan "long march" massa dari alun-alun utara Yogyakarta menuju Gedung DPRD DIY di Jl Malioboro, Yogyakarta untuk menyatakan sikapnya menolak rencana pemerintah pusat.
Sebelumnya, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Prabukusumo memilih keluar dari Partai Demokrat dan menyatakan dirinya siap untuk turun ke jalan guna memperjuangkan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya terkait dengan pengisian jabatan gubernur dan wakil gubernur melalui penetapan.
Perkembangan saat ini dinilai berpotensi mendorong terjadinya konflik yang berkelanjutan. Beberapa pengamat dan tokoh mendorong agar Presiden Yudhoyono dan Sri Sultan Hamengku Buwono X melakukan dialog untuk meredam terjadinya benturan yang tidak diinginkan.
Sementara Pengamat Politik Charta Politika, Yunarto Wijaya menilai, perlu melibatkan Sultan dan Paku Alam serta tokoh Yogyakarta lainnya dalam pembahasan RUU Keistimewaan Yogyakarta untuk menghindarkan terjadinya kontroversi.
Antara – 15-12-2010

Rabu, 15 Desember 2010

Kaus Lambang Keraton Yogyakarta Laris Manis

 Lambang keraton Yogyakarta
YOGYAKARTA--Penjualan kaus bergambar lambang Keraton Yogyakarta dalam beberapa hari terakhir meningkat dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, terkait dengan polemik mengenai Rancangan Undang-undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Peningkatannya cukup signifikan dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, karena banyak warga masyarakat terutama di Yogyakarta yang membeli kaus itu," kata salah seorang penjual kaus bergambar lambang Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di kawasan Alun-alun Utara, Kota Yogyakarta Deny Iskandar, Selasa.
Ia mengatakan lonjakan permintaan kaus bergambar lambang Keraton Yogyakarta terjadi sejak sepekan lalu, dan setiap hari mengalami peningkatan drastis.
"Ada yang membeli satu, tetapi ada pula yang membeli cukup banyak. Dalam sehari terjual rata-rata 30 lusin kaus bergambar lambang Keraton Yogyakarta. Pada hari-hari sebelumnya, biasanya hanya separuh dari jumlah itu yang terjual, bahkan sering sehari hanya laku 10 kaus," katanya.
Deny mengatakan dirinya juga melayani permintaan kaus itu dari para penjual kaus di kawasan Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. "Sejak sepekan terakhir permintaan meningkat tajam," katanya. Meski permintaan meningkat, menurut dia harga kaus ini tidak dinaikkan. "Harganya tetap seperti biasanya antara Rp22.000 hingga Rp45.000 per kaus, dan harga per lusin (terdiri 12 kaus) antara Rp300.000 hingga Rp500.000," katanya. Menurut dia, harga disesuaikan dengan jenis kain yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan kaus ini.
Hal yang sama juga dikatakan penjual kaus lainnya, Ari Dwi Suryani, bahwa penjualan kaus bergambar lambang Keraton Yogyakarta sejak beberapa hari belakangan ini banyak dicari pembeli. "Saat ini kami terus memproduksi kaus tersebut, dan kami beberapa hari lalu kehabisan stok," katanya.
Ia mengatakan permintaan kaus bergambar lambang Keraton Yogyakarta biasanya cenderung sedikit, bahkan sering setiap hari sepi pembeli. "Kecuali pada hari libur, banyak wisatawan domestik maupun mancanegara membeli kaus ini sebagai oleh-oleh," katanya.
Sementara itu, menurut salah seorang pembeli kaus bergambar lambang Keraton Yogyakarta Paidi warga Bantul, dengan memakai kaus ini merupakan salah satu wujud dukungan terhadap keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
"Saya membeli lima kaus untuk anak-anak saya dan istri. Dengan mengenakan kaus ini juga merupakan bentuk kecintaan terhadap Yogyakarta," katanya.
Desember 2010, 21:19 WIB
Red: Stevy Maradona
Sumber: Antara

Selasa, 14 Desember 2010

Beginilah Cara Kerja Sensor Pelanggar Itu

 Tony Hartawan
Jakarta - Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya memasang alat Electronic Law Enforcement (ELE) atau kamera tersembunyi di sejumlah ruas jalan protokol Ibu Kota untuk memantau pelanggaran lalu lintas oleh pengguna jalan raya.

Untuk sementara alat tersebut akan dipasang di penggalan jalan dari Blok M, Jakarta Selatan, menuju Glodok, Jakarta Barat. Kamera tersembunyi yang dipasang dihubungkan dengan sebuah alat di dalam kendaraan polisi.

Kamera bekerja dengan cara mengambil gambar atau memotret dengan sensor sehingga mendapatkan plat nomor kendaraan untuk mengidentifikasi data kendaraan. Alat elektronik tersebut juga mampu mendeteksi kendaraan yang tidak memperpanjang pajak STNK, bahkan pengendara yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM).

Dengan sistem elektronik ini, penilangan terhadap pengendara yang melakukan pelanggaran juga bisa dilakukan secara komputerisasi bukan manual lagi.

"Dengan alat ini jadi lebih mudah, setiap pelanggaran akan difoto," ujar Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Royke Lumowa seperti dikutip di situs TMC Polda Metro Jaya, Sabtu (11/12).

Pemasangan alat elektronik juga diharapkan dapat mempermudah polisi dalam memberikan sanksi pada pengendara yang melanggar aturan karena alat itu memantau langsung, kemudian denda pelanggaran ditagih kepada pemilik kendaraan.

Alat ini sudah diuji coba di Inggris dan Australia. Pengembangan Electronic Law Enforcement ini dilakukan pihak Ditlantas Polda Metro Jaya bersama PT Registrasi dan Identifikasi Nasional (RIN).
TEMPO Desember 2010 | 08:02 WIB

Senin, 13 Desember 2010

Catatan kecil Hari Nusantara

Siswanto Rusdi
Jakarta - Pada 13 Desember ini Hari Nusantara kembali diperingati. Hari Nusantara dinyatakan sebagai hari besar (non-libur) pada 2001 dalam masa kepemimpinan Presiden Megawati Soekarno Putri. Dipilihnya tanggal tersebut sebagai Hari Nusantara merujuk kepada deklarasi yang dinyatakan oleh Perdana Menteri Djuanda pada 13 Desember 1957.

Secara ringkas, Deklarasi Djuanda berisi pernyataan bahwa perairan antar-pulau merupakan bagian yang tak terpisahkan dari RI dan karenanya Indonesia berhak penuh atasnya.

Pada masa itu pernyataan Djuanda sangat luar biasa karena anggapan umum yang berlaku sejak lama menyatakan bahwa laut teritori satu negara hanya sejauh 12 mil dari garis pantainya atau sejauh tembakan meriam. Lewat dari jarak itu sudah merupakan perairan internasional. Pada 1982 pemikiran Djuanda diterima oleh kalangan internasional dan diundangkan dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

Jadi, raision d'etre Hari Nusantara adalah pengakuan bahwa Indonesia merupakan negeri bahari. Atau, mengutip semboyan TNI AL, Jalesveva Jayamahe, justru di laut kita jaya.

Kenyataan pahit
Kendati demikian, kenyataan yang ada menunjukkan jangankan mencapai kejayaan di laut yang ada malah laut ditinggalkan. Karena menyadarkan kita akan kenyataan tersebut peringatan Hari Nusantara patut dihargai keberadaannya.

Ia menjadi obat untuk amnesia massal yang kita alami. Ia seolah berkata, hai anak bangsa, lihatlah ke laut dan kembalilah ke sana. Di sanalah terletak kejayaan Indonesia.

Amnesia yang dialami begitu parahnya sehingga tidak ada satupun bidang yang terkait dengan laut bisa dibanggakan. Contohnya, hingga hari ini kita tidak punya satupun pelabuhan laut yang betul-betul berkelas dunia seperti PSA Singapura atau Tanjung Pelepas, Malaysia. Tanjung Priok, yang merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk di Indonesia, tidak pernah bisa bebas dari kemacetan manakala tiba waktu closing pemuatan barang ke atas kapal.

Contoh lain, sampai sekarang kita tidak punya perusahaan pelayaran nasional yang bisa disejajarkan dengan Neptune Orient Line (NOL)-nya Singapura. Djakarta Lloyd, yang disebut-sebut sebagai flag carrier (mungkin pertimbangannya karena perusahaan ini merupakan BUMN) ternyata hanya memiliki beberapa gelintir kapal pengangkut petikemas. Itupun bertonase kecil. Malah kini sedang terancam bangkrut

Jangan lupa, di negara kepulauan terbesar di dunia ini sampai sekarang sektor perbankannya masih menganggap bisnis maritim, khususnya pelayaran, sebagai bidang usaha yang beresiko tinggi. Sehingga, mereka mengenakan tingkat suku bunga yang sangat tinggi, lebih dari 10 persen. Padahal, di negeri jiran Malaysia dan Singapura suku bunga untuk kalangan pelayaran berkisar antara 7-8 persen.

Tak ada prioritas
Sebetulnya pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk membangun bidang maritim di Tanah Air. Tapi, mungkin karena kita telah tercerabut begitu jauhnya dari akar jatidiri sebagai negara bahari, semua kebijakan itu hampir-hampir tidak banyak berpengaruh.

Ambil contoh Instruksi Presiden (Inpres) No. 5 tahun 2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional. Sejak dikeluarkan peraturan tersebut hingga saat tidak juga bisa mendorong pihak perbankan untuk lebih mendukung pelaku usaha pelayaran dengan memberikan kredit berbunga rendah.

Selain mengeluarkan Inpres tersebut, pada tahun yang sama, pemerintah juga telah meratifikasi International Convention on Maritime Liens and Mortgage (Konvensi International tentang Piutang Maritim dan Mortgage, 1993) melalui Peraturan Presiden No. 44 tahun 2005. Tapi, tetap saja pihak perbankan tidak merubah perlakuannya kepada industri pelayaran dalam negeri.

Dari sisi regulasi, bisnis maritim di Indonesia telah memiliki perangkat hukum yang cukup. Yang tidak dimiliki hanyalah skala prioritas. Kita sepertinya ingin menjadi yang terbaik di semua aspek bidang maritim sekaligus. Dalam perspektif Michael Porter, kita tidak bisa kompetitif di tengah keunggulan komparatif yang dimiliki.

Bagi para decision maker, peringatan Hari Nusantara tahun ini harus mampu dijadikan momentum untuk memperbarui semangat dalam mengelola negeri ini. Syukur-syukur semangat itu bisa langsung diwujudkan dalam berbagai keputusan yang lebih pro-bahari.

Dan, peringatan Hari Nusantara tahun ini harus juga bisa dijadikan awal baru untuk penentuan skala prioritas pembangunan bidang maritim nasional. Saatnya menentukan apakah kita hanya perlu satu pelabuhan yang betul-betul layak disebut sebagai pelabuhan kelas dunia. Atau, apakah kita hanya perlu menjadikan perusahaan pelayaran nasional betul-betul sebagai flag carrier yang disegani. Atau yang lainnya. Terserah.

Yang jelas, begitu skala prioritas sudah ditetapkan ia akan dijalankan dengan segenap keseriusan. Hal lain di luar itu harus mau dikesampingkan terlebih dahulu hingga prioritas tadi tuntas terlaksana. Jika dalam mengemban misi menyukseskan prioritas yang ditetapkan ada perusahaan atau pelaku usaha yang perlu diproteksi, ukurannya bukan BUMN atau non-BUMN. Boleh siapa saja.
Senin,13 Desember 2010 18:45 WIB
* Direktur The National Maritime Institute (Namarin), Jakarta

Polri dan Dewan Pers Segera Tandatangani MoU


 Polri dan Dewan Pers Segera Tandatangani MoU
Jakarta - Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Iskandar Hasan, mengatakan, Polri segera menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Dewan Pers dalam penanganan kasus/laporan publik terhadap pers.
"Nota kesepahaman ini masih dalam rancangan dan tinggal menunggu tanda tangan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo," kata Iskandar usai mengikuiti acar diskusi publik "Kontroversi Konten Media Massa pada Era Kebebasan Pers, di Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin.
Menurut dia, selama ini masyarakat atau perusahaan yang keberatan tentang pemberitaan di media massa bisa langsung ke polisi, namun ke depan tidak bisa langsung ke polisi.
"Perlu ada proses terlebih dahulu sebelum laporannya diserahkan ke polisi, yakni melakukan mediasi dan mengoptimalkan hak jawab. Kalau cara-cara ini tidak bisa menyelesaikan permasalahan itu, maka baru polisi yang akan menanganinya," tuturnya.
Penanganan kasus antara publik dan pers akan melibatkan Dewan Pers sebagai saksi ahli.
"Jadi jangan sampai ke depan kasus-kasus jurnalis tidak ada pegangan, tapi ada proses. Jadi masyarakat menyadari solusi dalam konflik dengan pers itu bisa terwujud," tambahnya.
Sebelumnya, Dewan Pers dan Polri membentuk tim kecil untuk membahas upaya Polri dalam mendukung kemerdekaan pers.
MoU itu membahas mengenai bagaimana peran Polri bila ada masalah pers.
"Bagaimana polisi menangani, melibatkan dewan pers, supaya polisi bisa menjalankan tugasnya tapi tidak mengganggu kemerdekaan pers," kata Wakil Ketua Dewan Pers, Bambang Harrymurti. (ANTARA)13/12/2010

Minggu, 28 November 2010

Tabung Gas 3 Kg Meledak di Tambora, 6 Orang Jadi Korban

Tabung gas elpiji rusak

JAKARTA--Delapan orang menjadi korban ledakan gas tiga kilogram di Jalan Kalianyar 8 RT 9 RW 6 nomor 18 Kelurahan Kalianyar, Kecamatan Tambora Jakarta Barat pada Sabtu (27/11) sekitar pukul 22.00 WIB. Korban insiden adalah Sunanto (36), ibu Jaroh (32), Satiman (42), Aries (33), Doni (15),Edo (45), Sakir (38), Chandra (10).

Enam korban menderita luka bakar disekitar lengan dan kaki. Namun, kini mereka sudah diperbolehkan pulang pihak rumah sakit.

Sementara Sunanto dan Jaroh 90 persen tubuh mereka menderita luka bakar. Jaroh dirawat intensif di RSCM dan Sunanto dirawat di Rumah Sakit Gatot SUbroto.

Kejadian bermula saat Ibu Jaroh sedang mempersiapkan bubur untuk dijual. Tak jauh dari kompor gasnya, ada sebuah tabung gas tiga kilogram yang baru saja dibeli.

Gas tiga kilogram tersebut diletakkan diluar rumah, namun tidak jauh dari kompor gas. Saat pintu dibuka gas masuk kedalam lalu terjadilah ledakan.

Menurut keterangan korban, Satiman, ledakan terjadi akibat api yang menyambar gas yang keluar dari tabung tigakilogram tersebut. "Pentil gas yang belum dipakai sepertinya rusak jadi gasnya bocor lalu api di kompor gas yang sudah nyala nyamber," ujarnya saat ditemui di lokasi kejadian yang sangat padat penduduk.

Ketua RT 9, Matsarih mengatakan pihak pertamina telah berjanji untuk membiayai pengobatan para korban. Kasus ini ditangani Kepolisian Sektor Tambora, dan menyita sebuah tabung tiga kilogram sebagai barang bukti.
Red: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: c23
Antara Ahad, 28 November 2010, 17:10 WIB


=====================================================

Tabung Gas 3 Kg Meledak di Warung Gudeg, 3 Orang Luka Bakar
Jumat, 22 Oktober 2010, 12:59 WIB
Tabung gas 3 kg kembali meledak
JAKARTA-- Tabung gas 3 kilogram (kg), kembali meledak. Kali ini, tabung gas warna melon itu meledak di Warung Gudeg Yogya, Jalan Melati rt 2 rw 12, Kelurahan Rawa Badak Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara.
Peristiwa ledakan ini terjadi pada Jumat (22/10) sekitar pukul 11.00 WIB. Akibat ledakan, tiga orang menderita luka bakar, yaitu Sarmin (49 tahun), pemilik warung, dan dua pekerja warung bernama Dwi (19 tahun) dan Wati (19 tahun). Ketiganya langsung dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakut, untuk mendapatkan perawatan medis.
"Pemilik menderita luka bakar di lengan, dua pekerjanya 80 persen menderita luka bakar di badan dan muka mereka," kata Yanto, saksi mata, kepada wartawan saat ditemui di lokasi.
Penyebab ledakan diduga berawal dari regulator tabung yang bocor. Saat itu, kedua pekerja sedang memasak. "Saya lihat regulatornya memang sudah rusak, tapi masih ditekan pakai batu di atasnya," ujar Putut (43 tahun), ketua RT 02, kepada Republika, saat ditemui di lokasi ledakan. Putut menambahkan tabung gas terlempar sejauh dua meter. Ledakan juga mengenai satu tabung gas ukuran 12 kg, yang berada di samping tabung gas melon itu. "Sempat ada percikan api. Percikan api itu menyambar stop kontak listrik," kata Putut.
Red: Siwi Tri Puji B
Rep: c31

424 Kabupaten di Indonesia Ditetapkan Endemis Malaria


Mamuju - Sebanyak 424 kabupaten dari 576 kabupaten di Indonesia ditetapkan sebagai daerah Endemis Malaria, sehingga perlu dilakukan penanganan serius untuk memberantas penyakit tersebut.

Hal ini dikemukakan Global Fund Malaria Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Dr. Lukman Hakim, di Mamuju, Sabtu.

Menurut Lukman, dari 424 kabupaten endemis Malaria tersebut, diperkirakan sekitar 45 persen penduduk Indonesia beresiko tertular penyakit Malaria.

Ia mengemukakan, penyakit Malaria bukan hanya persoalan kesehatan secara nasional, namun masalah ini juga terjadi di beberapa negara besar lainnya baik pada benua Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah dan benua Afrika.

"Pemyakit Malaria salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah masyarakat di dunia. Setiap tahun, lebih 500 juta manusia terinfeksi malaria dan lebih dari 1 juta diantaranya meninggal dunia," katanya.

Lukman menjelaskan, kasus terbanyak yang ditemukan terdapat di benua Afrika, namun juga melanda Asia, Amerika Latin, Timur Tengah dan beberapa di benua Eropa.

Resiko penyakit malaria, kata dia, dapatmempengaruhi tingginya kematian bayi, anak balita, wanita hamil dan dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia.

"Penyakit Malaria di Indonesia semakin tinggu sejak tahun 2006 silam dengan jumlah kasus yang ditemukan sekitar 2 juta kasus malaria klinis, kemudian menurun pada tahun 2007 yang hanya menjadi 1,75 juta kasus," papar dia.

Dia mengemukakan, pada umumnya lokasi endemis malaria terdapat di desa-desa yang terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses pelayanan kesehatan kurang, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah serta perilaku hidup sehat yang kurang baik.

Dijelaskannya, hasil pelaksanaan kegiatan penanggulangan malaria di Indonesa pada periode 2000-2007 yang diukur dari berbagai indikator telah mengalai penurunan.

"Grafik telah menunjukkan terjadinya penurunan kasus penderita malaria klinis, namun grafik menunjukkan bahwa tahun 2007 silam masih terdapat 1.774.845 penderita klinis di Indonesia.

Hal ini pun kata dia, menjadi tantangan bagi segenap bangsa, bukan hanya tantangan bagi Kementerian kesehatan saja, namun upaya penanggulangan malaria masih memerlukan kepedulian dan dukungan segenap komponem bangsa dan rakyat Indonesia.

Ia juga menambahkan, untuk kondisi penyakit malaria di Sulbar juga termasuk daerah rawan penyebaran penyakit malaria.

"Kasus penderita penyakit Malaria yang dinyatakan positif di wilayah Sulbar mencapai angka sebesar 1.367 jiwa di tahun 2009 karena itu perlu gebrakan untuk memberantasnya," paparnya.

Lukman juga mengemukakan, dari lima kabupaten di provinsi terbungsu ini, jumlah penderita penyakit malaria yang positif tertinggi di Kabupaten Mamuju dengan jumlah kasus sekitar 563 jiwa, Mamuju Utara sebanyak 5 jiwa.

Sedangkan di Kabupaten Polman ditemukan sebanyak 124 jiwa terjangkit positif, 705 jiwa ditemukan di Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamasa dinyatakan belum ada kasus yang terdata.

Sementara itu, kata dia, penderita penyakit malaria klinis di Sulbar tercatat kabupaten Mamuju kembali menempati peringkat tertinggi dengan jumlah 16.810 jiwa di tahun 2009, Mamuju Utara sebanyak 370 jiwa, Polewali Mandar sebanyak 2.025 jiwa, Majene sebanyak 1.517 jiwa dan Mamasa sebesar 928 jiwa.

"Kondisi ini tentu sangat menggelitik hati kita untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit malaria itu karena dampaknya sangat besar dalam upaya peningkatan SDM itu sendriri," papar Lukman. (ACO/K004)
(ANTARA News) Minggu, 28 November 2010 00:15 WIB

Sabtu, 27 November 2010

Semburan Lumpur Lapindo Bertambah

 (Foto/Eric Ireng)
Sidoarjo - Titik utama semburan lumpur Lapindo bertambah dari satu menjadi dua yang diduga karena dipengaruhi adanya peningkatan aktivitas yang terjadi pada Gunung Bromo selama dua pekan terakhir.

Deputi Operasional Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Sofyan Hadi, Sabtu, mengatakan, saat ini jumlah titik semburan yang ada di pusat semburan bertambah dari satu menjadi dua.

"Bahkan beberapa hari yang lalu titik semburan tersebut sempat muncul menjadi tiga titik dengan intensitas lumpur yang dikeluarkan bervariasi," katanya.

Ia menjelaskan, bertambahnya titik semburan di pusat semburan tersebut mulai muncul sejak sepuluh hari terakhir dan deprediksi titik semburan tersebut bisa bertambah.

"Titik di pusat semburan tersebut bisa saja bertambah, tapi itu hanya bersifat fluktuatif yang sewaktu waktu akan kembali lagi," katanya.

Ia mengatakan, sejak tanggal 18 November lalu tepatnya sebelum ada peningkatan status Gunung Bromo semburan lumpur terdapat tiga titik dengan mengepulkan asap putih.

"Namun sejak adanya peningkatan status Gunung Bromo kondisi semburan menyusut menjadi dua titik dan bertahan hingga saat ini," katanya.

Ia mengatakan, peningkatan aktivitas vulkanik lumpur Lapindo juga ditandai dengan keluarnya lagi lumpur kental dengan temperatur lebih panas yang mencapai 32 derajat celcius.

"Padahal mulai tahun 2010, aktivitas kawah utama semburan lumpur Lapindo mulai mengecil," katanya.

Ia mengatakan, volume lumpur yang keluar pada tiga bulan pertama tahun 2010 hanya 10 ribu meter kubik perhari atau jauh lebih kecil dibandingkan puncak semburan pada juni 2006 lalu yang mencapai 180 ribu meter kubik perhari.

Sementara pada triwulan kedua 2010 yang keluar dari pusat semburan lebih dominan air tapi mulai sepuluh hari belakangan malah lebih dominan lumpur bahkan dengan kepekatan dan suhu lebih tinggi dari biasanya.

Ia sendiri belum belum bisa memastikan apakah ada kaitan langsung antara peningkatan aktivitas Gunung Bromo dengan peningkatan aktivitas vulkanik Lumpur Lapindo

"Jika memang sistem di bawah permukaan Lumpur Lapindo terkait dengan Gunung Bromo bisa jadi tekanan bawah permukaan yang terjadi di sistem gunung bromo bakal berdampak pada Lumpur Lapindo," katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala Humas BPLS Akhmad Kusairi mengaku saat ini memang terdapat dua buah titik semburan baru di kolam penampungan utama.

"Namun, kami masih belum bisa memastikan apakah fenomena tersebut berhubungan langsung dengan terjadinya peningkatan di Gunung Bromo," katanya.
(ANT/A024)
Sabtu, 27 November 2010 14:54 WIB

2.000 Prajurit TNI/Polri Amankan Presiden di Aceh

Banda Aceh - Sekitar 2.000 prajurit TNI dan personil Polri siap mengamankan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Provinsi Aceh, 29-30 November 2010.
"Pasukan TNI dan Polri sudah siap mengamankan kunjungan Kepala Negara selama dua hari berada di Aceh," kata Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) Iskandar Muda, Letkol CAJ Yuli Marjoko di Banda Aceh, Jumat.
Prajurit TNI dan Polri serta anggota Satpol Pamong Praja (PP) ikut dilibatkan dalam kelancaran kunjungan presiden selama berada di provinsi berpenduduk sekitar 4,6 juta jiwa tersebut.
Namun, tambah dia, rapat koordinasi lintas instansi pemerintah, jajaran Kodam dan Polda Aceh sebagai persiapan menyambut kunjungan presiden terus dilakukan.
Ada beberapa agenda Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama berada di Aceh, antara lain membuka Jambore nasional (Jamnas) Wirakarya di kawasan Seulawah, Kabupaten Pidie.
Selanjutnya penanaman pohon trembesi di kawasan Tibang, Kecamatan Syiah Kuala, meresmikan program Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) dan menerima kursi "perdamaian" di Banda Aceh.
Rapat koordinasi, Yuli menyebutkan tidak hanya masalah pengamanan kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tapi juga terkait dengan kelancaran acara selama berada di provinsi ujung paling barat Indonesia itu.
"Rapat koordinasi penyambutan kunjungan presiden di Aceh itu juga membicarakan persiapan tenda, pengerasan jalan di lokasi perkemahan Jamnas Wirakarya di Seulawah," kata Kapendam.
Bumi Perkemahan Seulawah atau berjarak sekitar 75 kilometer arah timur Kota Banda Aceh itu dimasa mendatang akan dijadikan sebagai pusat pendidikan masyarakat.
Antara – 26 – 11 - 2010

Jemaat Ahmadiyah Sulit Kembali ke Kampung


Mataram - Kepala Kantor Kementerian Agama Nusa Tenggara Barat, Drs H Suhaimi Ismy mengatakan, jemaat Ahmadiyah sulit kembali ke rumahnya selama mereka tidak mau berbaur dengan masyarakat setempat.
"Yang dimaksud membaur di sini adalah dalam masalah agama, misalnya shalat Jumat harus bersama-sama dengan masyarakat bukan dilaksanakan sendiri oleh Ahmadiyah," katanya kepada wartawan di Mataram, Sabtu.
Sekitar 140 jemaah Ahmadiyah hingga kini masih tinggal di asrama Transito Mejeluk Mataram milik Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB setelah rumah mereka di Ketapang, Gegerung, Lombok Barat dirusak dan dibakar massa sekitar empat tahun lalu.
Pada Jumat (26/11) sekitar pukul 16.30 Wita ratusan massa kembali merusak rumah warga Ahmadiyah setelah ditinggal pemiliknya mengungsi ke asrama Transito Mataram.
Aksi perusakan rumah warga Ahmadiyah oleh ratusan massa tersebut melibatkan laki-laki, perempuan dan anak-anak.
Massa melempari kaca jendela, genteng rumah, sebagian juga menghancurkan tembok dengan menggunakan linggis.
Ratusan aparat dari Kepolisian Resor (Polres) Lombok Barat, dan anggota TNI AD dari Posramil, Kecamatan Lingsar, tidak mampu menghalau aksi massa.
Menurut Suhaimy, sebenarnya masyarakat Ketapang sangat terbuka dan mau menerima siapa saja asalkan bisa membaurkan diri dengan warga setempat.
Sebelumnya para jemaat Ahmadiyah berkeinginan pulang ke rumahnya di Ketapang, namun masyarakat tidak bisa menjamin apakah mereka akan aman atau tidak.
"Untuk itu, kepada jamaat Ahmadiyah dihimbau jika ingin kembali ke rumahnya harus segera membaur dengan masyarakat dan mereka akan diterima baik oleh warga," katanya.
Antara, 27-11-2010

Jumat, 26 November 2010

Bahaya, Belajar Islam kepada Orientalis

Ilustrasi
SURABAYA--Umat Islam harus hati-hati terhadap pemikiran para orientalis (ilmuan Barat). Pasalnya, para orientalis dalam mengkaji ajaran Islam tidak murni menggunakan telaah akademis semata, melainkan juga membawa misi terselebung demi kepentingan pribadi maupun kelompoknya.

Pendapat itu dikemukakan dosen di International Islamic University Malaysia (IIUM), Syamsuddin Arif, saat menjadi pembicara dalam diskusi terbatas bertema “Dialog Tokoh: Tantangan Orientalis dalam Studi Islam” di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya, Kamis, (25/11).

Dalam acara yang diselenggarakan Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (Inpas) tersebut, Syamsuddin, menerangkan bahwa para orientalis belajar Islam awalnya demi kebangkitan kembali Barat atau disebut Renaissance. Seiring berjalannya waktu, sambung Syamsuddin, para orientalis mempelajari Islam tidak lepas dari semangat kolonialisasi.

Ia memberi contoh dalam kasus Napoleon Bonaparte, sang kaisar Prancis abad 19 saat datang ke Mesir dengan membawa pasukan dan para ilmuan yang ditugaskan mempelajari bahasa, agama, dan budaya Negeri Firaun tersebut. Setali tiga uang, sambung Syamsuddin, apa yang dulu dilakukan Snouck Hurgronje saat Belanda menakhlukkan Aceh, adalah mempelajari studi Islam sebagai senjata ampuh untuk menguasai wilayah yang akan dijajahnya.

Syamsuddin melanjutkan, biasanya, dalam kajian keislaman para orientalis melakukan pendekatan dengan beberapa teori. Seperti teori pengaruh (theories of influence), teori asal-usul (theories of origins), teori peminjaman (theories of borrowing), teori evolusi (theories of evolution) dan teori perkembangan (theories of development). “Itu hanya sebagai contoh agar kita waspada,” jelas Syamsuddin.

Kendati bahaya, Syamsuddin menyebut jika justru banyak ilmuan dan cendekiawan Islam yang tergiur pemikiran para orientalis. Sebut saja Taha Husain dan Najib al-‘Aqiqi. Diterangkannya, Taha Husain mengatakan, “Kita mesti menuntut ilmu kepada mereka (orientalis) sampai kita mampu berdiri di atas kaki sendiri dan terbang dengan sayap-sayap kita”.

Karena itu, Syamsuddin menghimbau para mahasiswa agar berhati-hati jika belajar Islam kepada orientalis, terutama jika belajar Islam di Barat. “Jika tidak punya modal cukup, serta keberanian beradu argumen dengan para profesor Barat, saya sarankan lebih baik tidak belajar Islam di Barat. Karena masih banyak ahli studi Islam di negeri ini,” tukasnya.
Kamis, 25 November 2010, 15:54 WIB
Red: Budi Raharjo
Rep: Erik Purnama Putra

Kamis, 25 November 2010

Warga Padang Diminta Tidak Tinggalkan Rumah

Padang - Wakapolresta Padang AKBP Wisnu Handoko mengimbau masyarakat setempat untuk tidak meninggalkan rumah menyusul pesan singkat yang menyebutkan akan terjadi gempa besar di daerah itu pada Kamis (25/11).
"Kita mengimbau masyarakat untuk tidak meninggalkan rumah karena isu gempa yang kini banyak beredar di masyarakat. Gempa atau bencana alam tidak bisa diprediksi," katanya di Padang, Rabu.
Menurut dia, isu tersebut dikhawatirkan sengaja dikembangkan pihak-pihak tertentu untuk melakukan aksi kejahatan di pemukiman warga.
Dia menambahkan, warga boleh waspada akan setiap kemungkinan yang terjadi, namun harus tetap harus tenang dan bersikap bijaksanana menyikapi setiap informasi yang berkembang.
"Jangan sampai nanti pada saat warga panik lalu mereka meninggalkan rumah dan hal itu dimanfaatkan pelaku kriminal," ujarnya.
Jika warga tetap ingin meninggalkan rumah, ia menganjurkan terlebih dahulu memeriksa keamanan rumah mereka untuk memperkecil kemungkinan terjadinya tindak kriminal yang ingin memanfaatkan situasi.
Sebelumnya beredar luas isu melalui pesan singkat yang menyebutkan akan ada gempa besar diikuti tsunami di Sumbar pada Kamis (25/11), akibat telah masaknya patahan lempeng di Kepulauan Mentawai.
Pihak kepolisian menghawatirkan isu tersebut sengaja dihembuskan pelaku kejahatan untuk melakukan aksi kejahatan saat masyarakat lengah.
Antara – 25-11-2010